KELEDAI MELAKUKAN WAWANCARA DENGAN SEORANG MANUSIA

Pernahkah kamu mempunyai hewan atau mendengar hewan yang bisa berbicara secara jelas sebagaimana manusia berbicara? Sungguh sangat mustahil,jika ada hewan bisa seperti itu sebagaimana manusia dan bahkan bisa melakukan tanya jawab.Tetapi kisah tentang adanya hewan berbicara dan bahkan ngobrol dengan manusia,hal itu telah dikisahkan dalam alkitab,hewan tersebut adalah seekor keledai betina.

Siapapun yang mempunyai akal yang sehat (kecuali akalnya orang gila),maka orang tersebut TIDAK AKAN PERCAYA kalau hewan seperti keledai bisa bicara dan bahkan ngobrol dengan manusia.Tapi itulah alkitab,yang selalu ingin mengkisahkan sesuatu yang spektakuler supaya apa yang ada didalamnya diklaim sebagai firman Tuhan makanya para pengarangnya pun membuat kisah yang sangat menakjubkan meskipun diluar nalar manusia.

Bilangan 22 : 21 – 35

Lalu bangunlah Bileam pada waktu pagi, dipelanainyalah keledainya yang betina, dan pergi bersama-sama dengan pemuka-pemuka Moab.Tetapi bangkitlah murka Allah ketika ia pergi, dan berdirilah Malaikat TUHAN di jalan sebagai lawannya. Bileam mengendarai keledainya yang betina dan dua orang bujangnya ada bersama-sama dengan dia.Ketika keledai itu melihat Malaikat TUHAN berdiri di jalan, dengan pedang terhunus di tangan-Nya, menyimpanglah keledai itu dari jalan dan masuk ke ladang. Maka Bileam memukul keledai itu untuk memalingkannya kembali ke jalan.Kemudian pergilah Malaikat TUHAN berdiri pada jalan yang sempit di antara kebun-kebun anggur dengan tembok sebelah-menyebelah.Ketika keledai itu melihat Malaikat TUHAN, ditekankannyalah dirinya kepada tembok, sehingga kaki Bileam terhimpit kepada tembok. Maka ia memukulnya pula.Berjalanlah pula Malaikat TUHAN terus dan berdirilah Ia pada suatu tempat yang sempit, yang tidak ada jalan untuk menyimpang ke kanan atau ke kiri.Melihat Malaikat TUHAN meniaraplah keledai itu dengan Bileam masih di atasnya. Maka bangkitlah amarah Bileam, lalu dipukulnyalah keledai itu dengan tongkat.Ketika itu TUHAN membuka mulut keledai itu, sehingga ia berkata kepada Bileam: “Apakah yang kulakukan kepadamu, sampai engkau memukul aku tiga kali?”Jawab Bileam kepada keledai itu: “Karena engkau mempermain-mainkan aku; seandainya ada pedang di tanganku, tentulah engkau kubunuh sekarang.”Tetapi keledai itu berkata kepada Bileam: “Bukankah aku ini keledaimu yang kautunggangi selama hidupmu sampai sekarang? Pernahkah aku berbuat demikian kepadamu?” Jawabnya: “Tidak.”Kemudian TUHAN menyingkapkan mata Bileam; dilihatnyalah Malaikat TUHAN dengan pedang terhunus di tangan-Nya berdiri di jalan, lalu berlututlah ia dan sujud.Berfirmanlah Malaikat TUHAN kepadanya: “Apakah sebabnya engkau memukul keledaimu sampai tiga kali? Lihat, Aku keluar sebagai lawanmu, sebab jalan ini pada pemandangan-Ku menuju kepada kebinasaan.Ketika keledai ini melihat Aku, telah tiga kali ia menyimpang dari hadapan-Ku; jika ia tidak menyimpang dari hadapan-Ku, tentulah engkau yang Kubunuh pada waktu itu juga dan dia Kubiarkan hidup.”Lalu berkatalah Bileam kepada Malaikat TUHAN: “Aku telah berdosa, karena aku tidak mengetahui, bahwa Engkau ini berdiri di jalan menentang aku. Maka sekarang, jika hal itu jahat di mata-Mu, aku mau pulang.”Tetapi Malaikat TUHAN berfirman kepada Bileam: “Pergilah bersama-sama dengan orang-orang itu, tetapi hanyalah perkataan yang akan Kukatakan kepadamu harus kaukatakan.” Sesudah itu pergilah Bileam bersama-sama dengan pemuka-pemuka Balak itu.

Saya merasa geli ketika membaca tulisan tersebut yang notabenenya tidak jauh seperti kisah/cerita yang selalu dijadikan bahan cerita (dongeng) untuk anak kecil dalam menidurkan anak,yang hal itu selalu ada saja konspirasi dari imajinasi dari sang pendongeng.Bagaimana tidak dianggap dongeng sebelum tidur untuk anak kecil,jika kisahnya pun bermuatan daya khayal yang jauh dari kebenaran,kebenaran yang justru dianggap sebagai firman Tuhan.

Mungkin bagi para pembaca yang ingin menganggap bahwa kisah tersebut bukanlah cerita yang fiktif apalagi dianggap dongeng sebelum tidur,pasti akan membuat argument yang menyatakan bahwa: “hal itu bisa terjadi jika tuhan berkenan.” Hal itu dilontarkan untuk menjustifikasi kalau kisah tersebut memang firman Tuhan dan mengklaim kalau kisah tersebut memang benar-benar ditulis oleh musa yang mendapatkan bimbingan dari tuhan (roh kudus) dalam penulisannya tersebut.

Jika memang para pembaca beralasan klasik tersebut,maka silahkan jawab pertanyaan saya ini:

1.Jika hal itu memang firman Tuhan,lewat cara apakah tuhan menyampaikan kisah tersebut kepada musa?

2.Apakah musa sezaman dengan bileam?

3.Jika musa sezama dengan bileam,apakah musa melihat langsung kisah tersebut ataukah ada orang yang menyampaikan kisah tersebut lalu hal langsung ditulis oleh musa (meskipun musa sendiri tidak melihat kisah itu)?

4,Jika memang musa dengan bileam itu tidak sezaman,siapakah orang yang sudah menyampaikan kisah hal itu kepada musa?

Silahkan kamu jawab,jika merasa kisah tersebut memang tidak fiktif dan jika 4 pertanyaan itu tidak bisa dijawab secara otentik,maka kisah tersebut sudah bisa DIPASTIKAN KALAU HAL ITU ADALAH KISAH FIKTIF DAN PENGARANG KISAH TERSEBUT SUDAH MELAKUKAN KEBOHONGAN KEPADA PUBLIK !!!!

Karena alasan imanlah,kisah apapun yang ada pada alkitab selalu diterima oleh orang kristen,meskipun akal mereka sendiripun merasa ragu atas kebenaran kisah tersebut.Mereka berlindung dalam kalimat “percaya”,karena mereka sendiri tidak bisa membuktikan bahwa hal tersebut adalah kisah yang nyata apa adanya.Dan akhirnya,iman pun dijadikan sebagai kambing hitam dalam kisah.

1 Komentar

  1. No comment mengenai iman. Iman artinya percaya. Percaya tanpa pembuktian namanya iman buta. Seperti orang buta yang diberitahu bahwa langit itu berwarna biru dia akan mengatakan percaya. Maka iman buta itu belumlah cukup, harus dilandasi lagi dengan pengalaman spiritual untuk membuktikan keyakinannya itu. Jika sudah punya pengalaman spiritual maka kita seakan tersadarkan seperti orang yang bangun dari tidur…. bahwa kebenaran yang kita yakini selama ini adalah relatif, masih ada kebenaran abadi yang belum dapat kita jangkau dengan akal manusia meskipun dia sekaliber enstein sekalipun.


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s